Lho ? Leher ‘Dikretek’ itu Berbahaya ?

Seringkali saat mengalami nyeri leher, Anda meng-‘kretek’ leher untuk menghilangkan rasa sakitnya. Namun tahukah Anda bahwa hal itu justru akan membahayakan leher Anda? Bahkan para ilmuwan memperingatkan leher ‘dikretek’ itu bisa menyebabkan stroke.

Terapi yang banyak dilakukan orang itu sebenarnya “secara klinis tidak diperlukan” dan harus ditinggalkan karena mempengaruhi 2 dari 3 orang yang melakukannya terbukti mengalami penderitaan berkepanjangan dalam hidupnya.

Secara medis, meng’kretek’ leher dikenal sebagai manipulasi tulang belakang. Teknik ini melibatkan aplikasi dari berbagai jenis dorongan pinggang tulang belakang ke punggung bawah atau tulang belakang ke leher untuk mengurangi nyeri punggung, leher dan nyeri muskuloskeletal lainnya.

Namun dosen fisioterapi Neil O’Connell dari Brunel University, Uxbridge dan rekan-rekannya menyatakan bahwa manipulasi tulang belakang “bisa saja membawa potensi komplikasi neurovaskular serius.”

Dalam laporan studi yang dipublikasikan di British Medical Journal ini, tim O’Cornell menambahkan bahwa teknik ini “tidak diperlukan dan tidak disarankan.”

Nyeri leher sendiri seringkali disebabkan oleh stres dan terjadi pada satu dari 10 orang Inggris.

“Manipulasi tulang belakang itu berbeda dengan pijatan lembut karena leher Anda didorong secara paksa untuk menghasilkan suara ‘klik’ dadakan yang akrab di telinga itu.

“Namun kemudian ditemukan beberapa kasus langka terkait jenis tertentu stroke yang terjadi beberapa hari setelah ‘dikretek’ karena cara itu dapat merobek lapisan arteri vertebralis di leher yang berfungsi memasok darah ke otak.

“Beberapa studi juga telah menunjukkan bahwa jenis-jenis pengobatan lainnya seperti pijatan lembut atau olahraga juga sama efektifnya dengan ‘dikretek’ tetapi tanpa ada risiko. Sebenarnya tak satu pun dari cara-cara itu yang bisa menjadi obat mujarab dan tidak ada obat yang dapat diandalkan untuk mengatasi nyeri leher, semua metode itu hanya memberikan tingkat kelegaan yang sama,” ujar Mr. O’Cornell seperti dilansir dari The Telegraph.

Menurut O’Cornell, ada bukti yang konsisten untuk menjelaskan hubungan antara kerusakan pada pembuluh darah utama yang memasok darah ke otak, batang otak dengan tulang belakang bagian atas. Kondisi yang dikenal sebagai cedera neurovaskular ini biasanya diredakan dengan memijat leher.

Kajian awal percobaan manipulasi atau mobilisasi leher menyimpulkan bahwa terapi itu hanya memberi pereda nyeri jangka pendek. Bahkan percobaan terbaru telah memastikan bahwa pijat tidak lebih baik bila langsung dibandingkan dengan intervensi fisik lainnya seperti berolahraga.

Mengingat kesetaraan hasil dengan berbagai bentuk terapi yang ada berarti manipulasi tulang belakangnya tampaknya secara klinis memang tidak diperlukan, katanya.

“Potensi bahaya dan tidak adanya manfaat yang jelas dari ‘dikretek’ ini membawa pada kesimpulan yang tak terelakkan bahwa manipulasi tulang belakang harus ditinggalkan sebagai bagian dari pengobatan konservatif untuk nyeri leher,” tambah Mr. O’Cornell.

Namun ternyata seorang pakar epidemiologi Profesor David Cassidy dari University of Toronto dan rekan-rekannya tak sepakat dengan tim O’Cornell. Cassidy mengatakan bahwa manipulasi leher merupakan terapi tambahan yang berharga untuk pengobatan pasien dan harus terus dilakukan.

Cassidy dan timnya mengaku memiliki bukti yang “jelas-jelas menunjukkan manfaat manipulasi leher pada pasien nyeri leher”. Tim ini pun meragukan kaitan langsung antara ‘dikretek’ dengan stroke.

Ketika dikombinasikan dengan hasil percobaan terbaru, “Bukti ini mendukung bahwa manipulasi leher dapat dimasukkan sebagai alternatif pengobatan untuk nyeri leher, sama halnya dengan intervensi lain seperti tetap aktif dan berolahraga,” katanya.

Meski begitu tim Cassidy juga mengakui jika mempertimbangkan risiko, manfaat dan preferensi atau pilihan pasien maka “hingga kini belum ada terapi lini pertama yang disukai seluruh pasien dan tidak ada bukti bahwa mobilisasi itu lebih aman atau lebih efektif daripada manipulasi”.

“Kami tak menyarankan untuk meninggalkan metode manipulasi leher namun kami masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mencari tahu manfaat dan bahaya ‘dikretek’ dan intervensi umum lainnya terhadap nyeri leher,” pungkasnya.

Iklan

Deteksi Gejala Stroke Pada Perempuan

Stroke tidak selalu menyerang laki-laki, karena tak sedikit perempuan yang mengalami hal ini. Untuk itu ketahui apa gejala awal yang muncul jika perempuan terkena serangan stroke.

Hazel K. Goddess Fund for Stroke Research in Women menuturkan secara fisiologi tubuh perempuan berbeda dengan laki-laki dalam banyak hal, karenanya pencegahan dan pengobatan stroke bisa mempengaruhi perempuan secara berbeda.

Namun kebanyakan perempuan tidak menyadari atau peduli terhadap risiko yang berkaitan dengan stroke. National Stroke Association mengungkapkan sekitar 40 persen perempuan yang disurvei menyatakan dirinya hanya tahu sedikit atau tidak tahu sama sekali gejala stroke.

Diketahui banyak gejala umum yang bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan. Meski demikian, perempuan lebih mungkin mengalami tanda-tanda peringatan yang mendadak seperti:

  • Nyeri dada
  • Wajah dan anggota tubuh sakit
  • Sesak napas
  • Jantung berdebar
  • Kelemahan secara umum
  • Cegukan dan mual

Sementara itu ada pula faktor risiko eksklusif untuk perempuan yaitu menggunakan obat pengendali kelahiran, kehamilan, terapi pengganti hormon serta kadar trigliserida yang tinggi dan lemak perut berlebih.

“Setelah menopause tekanan darah dan kadar kolesterol meningkat jadi lebih cepat sehingga meningkatkan risiko stroke,” ujar Jan Flewelling dari Methodist Neurological Institute, seperti dikutip dari Foxnews.

Perempuan yang memiliki lemak perut ekstra dan trigliserida tinggi 5 kali lebih mungkin untuk menderita stroke. Selain itu jika perempuan mengalami palpitasi maka bisa jadi tanda fibrilasi atrium yang merupakan penyebab utama stroke.

Zachariah P. Zachariah selaku presiden dan direktur Fort Lauderdale Heart Institute menuturkan masyarakat harus belajar memahami FAST karena bisa membantu menentukan apakah seseorang mengalami stroke atau tidak. FAST ini sendiri adalah:

  1. Face, cobalah periksa wajah perempuan tersebut dengan memintanya untuk tersenyum dan lihat apakah ada satu sisi yang lebih rendah dari sisi lain.
  2. Ask, mintalah ia untuk mengangkat kedua tangannya dan periksa apakah ada satu lengan yang posisinya lebih rendah dari yang lain.
  3. Say, mintalah ia mengatakan sesuatu yang sederhana untuk melihat apakah bicaranya melantur atau aneh.
  4. Time, jika melihat tanda-tanda tersebut maka segera ke rumah sakit karena waktu memainkan peran yang penting dalam menentukan keberhasilan penanganan stroke.

Difteri ? Menyebabkan Kerusakan Jantung dan Saraf ?

Penyakit ini memang terdengar masih asing di telinga kita. Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih dalam tentang penyakit tersebut, berikut adalah kupasan lengkapnya.

Difteri adalah infeksi bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae, yang biasanya mempengaruhi selaput lendir dan tenggorokan. Difteri umumnya menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas. Dalam tahap lanjut, difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf. Kondisi seperti itu pada akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian.

Tanda dan gejala difteri meliputi, sakit tenggorokan dan suara serak, nyeri saat menelan, pembengkakan kelenjar (kelenjar getah bening membesar) di leher, dan terbentuknya sebuah membran tebal abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel, sulit bernapas atau napas cepat, demam, dan menggigil.

Tanda dan gejala biasanya mulai muncul 2-5 hari setelah seseorang menjadi terinfeksi. Orang yang terinfeksi C. Diphtheria seringkali tidak merasakan sesuatu atau tidak ada tanda-tanda dan gejala sama sekali.

Orang yang terinfeksi namun tidak menyadarinya dikenal sebagai carier (pembawa) difteri. Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita maupun sebagai carier.

Tipe kedua dari difteri dapat mempengaruhi kulit, menyebabkan nyeri kemerahan, dan bengkak yang khas terkait dengan infeksi bakteri kulit lainnya. Sementara itu pada kasus yang jarang, infeksi difteri juga mempengaruhi mata.

Bakteri C.diphtheriae dapat menyebar melalui tiga rute:

  • Bersin: Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, mereka akan melepaskan uap air yang terkontaminasi dan memungkinkan orang di sekitarnya terpapar bakteri tersebut.
  • >Kontaminasi barang pribadi: Penularan difteri bisa berasal dari barang-barang pribadi seperti gelas yang belum dicuci.
  • Barang rumah tangga: Dalam kasus yang jarang, difteri menyebar melalui barang-barang rumah tangga yang biasanya dipakai secara bersamaan, seperti handuk atau mainan.

Selain itu, Anda juga dapat terkontaminasi bakteri berbahaya tersebut apabila menyentuh luka orang yang sudah terinfeksi. Orang yang telah terinfeksi bakteri difteri dan belum diobati dapat menginfeksi orang nonimmunized selama enam minggu – bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala apapun.

Faktor risiko

Orang-orang yang berada pada risiko tertular difteri meliputi:

* Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi terbaru
* Orang yang hidup dalam kondisi tempat tingal penuh sesak atau tidak sehat
* Orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan
* Siapapun yang bepergian ke tempat atau daerah endemik difteri

Difteri jarang terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa, karena telah mewajibkan imunisasi pada anak-anak selama beberapa dekade. Namun, difteri masih sering ditemukan pada negara-negara berkembang di mana tingkat imunisasinya masih rendah seperti halnya yang saat ini terjadi di Jawa timur.

Jika tidak diobati, difteri dapat menyebabkan :

1. Gangguan pernapasan

C. Diphtheriae dapat menghasilkan racun yang menginfeksi jaringan di daerah hidung dan tenggorokan. Infeksi tersebut menghasilkan membaran putih keabu-abuan (psedomembrane) terdiri dari membran sel-sel mati, bakteri dan zat lainnya. Membran ini dapat menghambat pernapasan.

2. Kerusakan jantung

Toksin (racun) difteri dapat menyebar melalui aliran darah dan merusak jaringan lain dalam tubuh Anda, seperti otot jantung, sehingga menyebabkan komplikasi seperti radang pada otot jantung (miokarditis). Kerusakan jantung akibat miokarditis muncul sebagai kelainan ringan pada elektrokardiogram yang menyebabkan gagal jantung kongestif dan kematian mendadak.

3. Kerusakan saraf

Toksin juga dapat menyebabkan kerusakan saraf khususnya pada tenggorokan, di mana konduksi saraf yang buruk dapat menyebabkan kesulitan menelan. Bahkan saraf pada lengan dan kaki juga bisa meradang yang menyebabkan otot menjadi lemah. Jika racun ini merusak otot-otot kontrol yang digunakan untuk bernapas, maka otot-otot ini dapat menjadi lumpuh. Kalau sudah seperti itu, maka diperlukan alat bantu napas.

Ingin Rambut Mudah Panjang ? Ini Caranya !!!

Potong Rambut

Jika sahabat ingin memanjangkan rambut dalam waktu yang relatif singkat, sebaiknya potonglah ujung rambut setiap sebulan sekali. dengan memotong ujung rambut secara teratur akam memudahkan rambut untuk tumbuh normal tanpa bercabang.

Creambath

Sebaiknya creambathlah di salon sebulan sekali, dengan creambath secara teratur akan memberi nutrsi pada rambut serta memperlancar peredaran darah di kepala.

Air

Minumlah air yang cukup setiap hari minimal 8 gelas perhari. Dengan meminum air yang cukuo dapat mencegah dehidrasi dan mencegah kekeringan pada rambut, sehingga rambut menjadi tidak cepat patah dan rapuh.

Pelembab

Sebaiknya hindarilah memakai pelembab rambut pada kulit kepala, karena akan membuat kulit kepala menjadi kering dan berketombe.

Keramas

Hindarilah keramas pada setiap hari, karena shampoo yang kita gunakan menggunakan bahan yang mengandung kimia, yang dapat mempercepat kerusakan pada rambut anda.Dan dapat juga memeperlambat pertumbuhan rambut kita.

Kulit Apel

Kulit apel dapat mencegah kerontokan pada rambut dan dapat memberikan nutrisi pada rambut. Caranya haluskanlah kulit apel, lalu oleskanlah pada rambut dan diamkan selama 20 menit, dan bilaslah dengan air bersih.

Minyak Zaitun

Sejak zaman dahulu minyak zaitun memang terkenal untuk perawatan rambut dan kulit. Karena minyak zaitun dapat meningkatkan proses pertumbuhan pada rambut. Caranya dengan teteskanlah 4 sampai 5 tetes minyak zaitun setelah keramas, lalu pijatlah. Diamkan semalaman agar kandungan minyak zaitun terserap pada kulit kepala. Setelah pagi keramaslah dan cuci rambut hingga bersih.

Bahaya !!! Olahraga Terlalu Keras dapat Melukai Ginjal

Berolahraga terlalu keras dapat menyebabkan nyeri otot yang menyakitkan, tetapi ternyata nyeri otot tersebut juga dapat menimbulkan masalah yang lebih serius. Kerusakan otot akibat berolahraga terlalu keras telah dikaitkan dengan kerusakan ginjal akibat gangguan enzim dalam darah.

Seorang pria di Pennsylvania mengalami nyeri otot lengan setelah berlatih dengan keras di tempat fitness. Keesokan harinya, lengan pria tersebut membengkak hingga 3 kali ukuran normal, kemudian dirinya segera memeriksakan kondisinya ke rumah sakit.

Dokter mendiagnosis masalah tersebut dengan Rhabdomyolysis, yaitu kerusakan otot karena pelepasan enzim myoglobin bersamaan dengan creatine kinase ke dalam aliran darah. Hal ini diketahui berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal.

Pria tersebut harus menjalani serangkaian tes yang menyakitkan hingga lebih dari 120 jam di rumah sakit, diantaranya harus berulangkali menjalani tes darah, cardiogram, ultrasound, dan bahkan pemasangan kateter kemih.

“Rhabdomyolysis biasanya terjadi karena cedera keras akibat kecelakaan mobil atau tertimpa reruntuhan bangunan, tetapi ternyata efek buruk berolahraga terlalu keras juga dapat menyebabkan kerusakan otot yang mengarah kepada masalah ginjal
Perawatan rhabdomyolysis meliputi hidrasi melalui selang infus untuk mengeluarkan enzim berbahaya dari tubuh. Dialisis ginjal mungkin juga diperlukan, tergantung pada tingkat kerusakan ginjal akibat enzim tersebut. Pasien yang didiagnosis mengalami rhabdomyolysis harus menjalani rawat inap setidaknya beberapa hari di rumah sakit.

Untuk mencegah kerusakan ginjal akibat rhabdomyolysis, seseorang yang berolahraga dengan tujuan membangun otot harus didampingi oleh instruktur agar sesuai dengan kebutuhan Anda dan tidak berlebihan. Hindari berolahraga dengan intensitas tinggi setiap hari, setidaknya beri jeda sehari.

Selain itu pastikan agar Anda tetap terhidrasi ketika berolahraga. Ketika seseorang merasa haus, dirinya telah mengalami dehidrasi hingga 2 persen. Perhatikan warna urine untuk mengetahui apakah Anda telah cukup terhidrasi, segeralah minum air jika warna urine terlihat gelap.

Susu Kedelai Sehebat ASI?

ASI memang merupakan sumber gizi yang terbaik bagi bayi termasuk kaitannya terhadap perkembangan otak. Ternyata bayi yang diberi susu formula sapi dan susu formula kedelai juga menunjukkan manfaat yang sama bagi bayi.

Studi baru yang dilaporkan dalam jurnal Pediatrics, menunjukkan bahwa perkembangan otak bayi adalah serupa, meskipun bayi mendapatkan ASI, susu formula sapi atau susu kedelai. Dengan manfaat yang sama, susu kedelai memiliki keunggulan yaitu lebih murah dibandingkan formula susu sapi.

“Orang tua yang memberi makan anak-anaknya dengan formula entah itu susu sapi atau susu kedelai, tidak perlu khawatir dengan efek sampingnya,” kata Thomas M. Badger, seorang peneliti dan profesor di University of Arkansas for Medical Sciences di Little Rock seperti dilansir dari lifescript.

Secara umum, para ahli merekomendasikan ASI sebagai sumber gizi terbaik bagi bayi. Kelompok-kelompok seperti American Academy of Pediatrics (AAP) mengatakan bahwa idealnya, bayi harus diberi makan ASI saja selama enam bulan, kemudian terus mendapatkan ASI yang ditambah dengan makanan padat selama setidaknya satu tahun pertama.

Tetapi tidak banyak ibu yang melakukan hal tersebut. Bahkan, penelitian di Amerika menunjukkan bahwa sementara hampir dua pertiga bayi yang telah beralih dari ASI ke susu formula sapi pada usia enam bulan.

Badger dan rekan-rekannya melakukan studi yang melibatkan 131 bayi yang diberi ASI secara eksklusif selama sedikitnya enam bulan, 131 bayi yang mulai diberikan susu formula sapi dalam dua bulan pertama kehidupan dan 129 bayi yang diberi susu kedelai.

Kemudian para peneliti memberikan tes standar kemampuan bahasa dan tes perkembangan lain pada bayi- bayi tersebut setiap tiga bulan selama tahun pertamanya. Pada akhir studi menunjukkan bahwa skor rata-rata hampir sama pada masing-masing kelompok. Tetapi bayi yang mendapatkan ASI lebih banyak menunjukkan keuntungan yang sedikit lebih potensial dibanding dua kelompok lainnya.

“Saat ini kelompok AAP memilih susu formula sapi sebagai pilihan kedua untuk ASI dan formula kedelai pada pilihan ketiga. Hal ini karena susu formula sapi telah lebih lama dikenal dan belum dikaitkan dengan efek samping,” kata Badger.

Formula kedelai masih menimbulkan kekhawatiran teoritis bahwa senyawa tertentu dalam kedelai dapat berbahaya bagi perkembangan anak. Badger dan timnya akan terus mengikuti perkembangan anak-anak dalam penelitian ini, sampai setidaknya usia 6 tahun untuk melihat apakah ada efek jangka panjang terkait dengan susu kedelai.