Manfat Jalan Santai Setelah Makan

1175245_577106285661436_1579425772_n

Setelah makan biasanya seseorang akan merasa kekenyangan dan malas untuk bergerak. Tapi ternyata berjalan santai setelah makan bisa memberikan manfaat untuk pencernaan.

Berjalan santai yang dimaksud disini bukanlah langsung berjalan setelah selesai makan, melainkan memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat sebentar sekitar 10-15 menit. Setelah itu diharapkan seseorang bisa melakukan jalan santai.

Seperti dikutip dari Fitsugar.com, jalan santai yang dilakukan setelah makan tidak hanya membakar beberapa kalori, melainkan turut membantu proses pencernaan dalam hal ini membuat organ-organ tubuh bekerja lebih baik. Berjalan santai setelah makan juga meningkatkan perjalanan makanan dan membantu penderita sakit maag.

Berjalan santai atau perlahan-lahan akan merangsang gerakan peristaltik di usus sehingga menghindari penumpukan makanan, membuat peredaran darah menjadi meningkat dan enzim-enzim yang bekerja saat proses pencernaan jumlahnya cukup untuk mencerna makanan yang dikonsumsi.

Selain itu berjalan santai selama 10 menit bisa menjadi cara yang murah untuk menenangkan pikiran, menghilangkan stres, dapat mencegah seseorang untuk berpikir mengemil, meningkatkan tambahan energi dan juga membantu menurunkan tekanan darah.

Jalan santai ini bisa dilakukan di mana saja, jika berada di rumah cukup melakukan jalan bolak balik di dalam rumah, sedangkan jika berada di luar bisa berjalan santai sambil menikmati udara segar.

Menurut Mayo Clinic Sleep Disorders Center di Rochester jalan santai setelah makan malam bisa membantu seseorang tidur lebih cepat dan membantu mengurangi ketagihan mengemil makanan lemak tinggi dan manis saat larut malam.

Namun seseorang tidak dianjurkan untuk berjalan cepat atau berlari setelah makan besar, karena bisa membuat suplai darah yang seharusnya membantu proses pencernaan menjadi dialihkan untuk berjalan cepat. Serta membuat jantung bekerja dua kali lipat lebih besar.

Sementara itu bagi penderita diabetes dibutuhkan waktu yang lebih lama sebelum mulai berjalan santai, yaitu 1-2 jam setelah makan. Hal ini untuk menunggu saat insulin dan kadar gula darahnya menurun tetap. Karena jika langsung berjalan akan mengacaukan kerja dari insulin dalam mengatur kadar gula darahnya.

Iklan

Efek Negatif Minuman Soda

Tak bisa melewatkan hari tanpa minuman bersoda? Berhati-hatilah karena kamu bisa tergolong soda addict. Rasa manis dingin segarnya memang enak tetapi ada sejumlah penyakit yang menjadi ancaman kesehatan kamu.

Di saat udara terik, segelas air soda dingin pastilah menjadi pelepas dahaga yang dicari. Minuman bersoda atau berkarbonasi memang sangat beragam jenisnya. Selain mudah didapat harganya juga realtif murah.

Jika kamu sudah mulai merasa bergantung pada minuman bersoda sebaiknya mualilah berhati-hati. Minuman soda memiliki berbagai zat tambahan, termasuk penambah rasa, zat pewarna, zat tambahan asam, agen pembentuk busa, serta zat pengawet yang tidak baik untuk kesehatan.

1098212_577471925624872_630649626_n

Minum sekaleng soda saja sehari dinyatakan bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik hingga 48%. Sindrom metabolik merupakan serangkaian faktor risiko penyakit jantung dan diabetes. Berikut beberapa efek negatif lain dari soda yang dilansir methodsofhealing.

1.Obesitas.
Mereka yang minum satu minuman soda atau lebih sehari berisiko lebih besar mengalami obesitas. Jika meminumnya setiap hari selama sebulan, maka akan memiliki 500 gram tambahan berat badan dan sulit untuk menghindarinya.

2.Rendah gizi.
Tidak ada penelitian yang mengungkapkan soda mengadung nilai gizi. Jika mengkonsumsinya berlebih maka hanya akan menambah racun pada tubuh.

3.Tingkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.
Soda, bahkan soda diet sekali pun, berisiko memicu penyakit jantung dan diabetes. Orang dewasa yang minum satu minuman soda atau lebih sehari berisiko 50% lebih besar mengalami sindrom metabolik (serangkaian faktor risiko, seperti kelebihan lemak di area pinggang, kadar kolesterol baih HDL rendah, tekanan darah tinggi dan gejala lainnya).

4.Picu osteoporosis.
Saat minum soda, gigi dan tulang akan melepaskan kalsium ke aliran darah untuk membantu menyeimbangkan asam fosfor yang dikandung soda. Selanjutnya, asam fosfor ini akan dikeluarkan dari dalam tubuh bersamaan dengan kalsium yang telah dilepaskan tulang dan gigi. Proses ini akan terus berlangsung setiap kali kamu minum soda, sehingga merampas persediaan kalsium tubuh dan memicu osteoporosis.

5.Ganggu sistem kekebalan tubuh.
Kandungan pemanis di dalam soda tetap saja gula. Gula merusak gigi, mengganggu sistem kekebalan tubuh, dan bisa memicu penyakit degeneratif.

6.Picu sakit ginjal.
Mereka yang minum soda diet sehari berisiko ganda mengalami penurunan fungsi ginjal.

7.Beresiko sakit maag.
Jika kamu termasuk soda addict, kemungkinan akan mudah terkena ganguan maag.

8.Dehidrasi.
Soda benar – benar membuat seseorang menjadi dehidrasi. Pasalnya kafein dan gula yang terkandung pada soda dapat membuat orang merasa cepat haus.

9.Gangguan system pencernaan.
Asam yang terdapat pada soda tidak bereaksi dengan baik, sehingga dapat menggamggu sistem pencernaan kamu.

Jika kamu sulit menghentikan kebiasaan mengonsumsi soda, coba secara perlahan ganti dengan minuman yang diolah dari bahan alami seperti jus, atau lebih baik ganti dengan air mineral yang sehat atau jus jeruk segar. Jadi tidak perlu lagi cemas, dengan asupan yang masuk pada tubuh.

Jika Mengunyah Makanan Terlalu Cepat

1175491_578122818893116_693087230_n

Tidak sedikit orang yang makan dengan hanya mengunyah makanan beberapa kali dan kemudian buru-buru menelannya. Cara ini mungkin bisa menghemat waktu makan tetapi tidak untuk tubuh Anda. Apa yang terjadi bila mengunyah makanan terlalu cepat?

Bila Anda dikejar waktu, makan bergegas atau terlalu cepat sesekali tentu tidak akan menimbulkan banyak masalah selain sakit perut. Namun jika makan cepat sudah menjadi kebiasaan Anda, maka ada beberapa masalah kesehatan yang mengintai.

Berikut beberapa masalah kesehatan yang terjadi bila orang terbiasa makan terlalu cepat, seperti dilansir MedlinePlus:

1. Sakit perut (indigestion and upset stomach)

Bila Anda makan terlalu cepat akan meningkatkan risiko gangguan pencernaan seperti sakit perut atau upset perut. Upset perut dan pencernaan biasanya memiliki banyak gejala misalnya sensasi terbakar dengan perasaan berat di perut (rasanya seperti makan batu), rasa pahit di mulut dan sakit di bagian perut.

Bila gangguan pencernaan ini sudah sangat parah, kadang-kadang sering dikira serangan jantung. Ketidaknyamanan tersebut biasanya mereda ketika tubuh memiliki kesempatan untuk memecah makanan yang terlalu cepat ditelah tersebut.

2. Berat badan naik dan oberitas

Otak dan perut bekerja sama untuk mengendalikan nafsu makan dan proses tersebut tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit bagi perut untuk berkomunikasi dengan otak dan memberi tahu bahwa Anda sudah merasa kenyang.

Jika Anda makan terlalu cepat, kalori akan menumpuk sebelum tubuh memiliki kesempatan memberitahu otak bahwa Anda sudah merasa kenyang. Karena mengandalkan ketidaknyamanan di perut (kepuasan emosional) dan bukan dari sinyal otak, maka orang yang makan terlalu cepat akan mengonsumsi terlalu banyak kalori yang membuatnya berisiko menjadi gemuk dan obesitas (kegemukan).

3. Tidak peka dengan sinyal lapar dan kenyang

Menurut Peace Health Medical Group of Washington, Alaska and Oregon, orang yang makan terlalu cepat tidak akan peka dengan sinyal rasa lapar dan kenyang. Dan bila kebiasaan makan terlalu cepat tidak diubah, maka Anda bisa kehilangan sinyal rasa lapar dan kenyang sama sekali. Bila hal ini terjadi, maka Anda dapat makan kapanpun sesuai dengan emosi bukan lagi sinyal dari tubuh dan otak.

Mudik?? Tapi Jangan Tahan Buang Air Kecil Ya. . .

Saat melakukan perjalanan jauh dan timbul keinginan untuk buang air kecil, seringkali orang merasa malas untuk berhenti sejenak karena merasa ‘tanggung’. Nyatanya, kebiasaan ini memberi efek buruk bagi kesehatan tubuh, khususnya kesehatan organ ekskresi Kita.

Dalam kondisi normalnya, kandung kemih bisa menampung urine sebanyak 300-400 cc. Tapi kalau sudah lebih dari itu dan ditahan dalam waktu yang cukup lama bisa menimbulkan risiko infeksi kandung kemih. Pada akhirnya jika diteruskan kondisi tersebut bisa berlanjut hingga timbul perasaan anyang-anyangan. Anyang-anyangan merupakan kondisi di mana seseorang selalu merasa ingin buang air kecil, tetapi urinenya sedikit atau bahkan tidak ada.

Sekarang kan pom bensin sudah banyak, harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Kalau memang ingin bilas dengan air yang bersih, bawa sendiri saja air botol mineral dan tisu basah, cukup aman kok.

Ingat,.terlalu sering menahan buang air kecil, apalagi jika orang tersebut sudah memiliki riwayat kerusakan pada dinding otot kencing, bisa berujung hingga menimbulkan lumpuh.

Bila perlu gunakan diapers jika memang kondisinya orang tersebut tidak bisa menemukan toilet dalam waktu dekat. Lebih baik menggunakan diapers seperti ini dibandingkan dengan menahannya terlalu lama di sepanjang perjalanan.

Yang penting diingat juga adalah jangan lantas membatasi air minum agar lebih jarang buang air kecil. Justru saat perjalanan jauh seperti itu kondisi dehidrasi harus bisa dicegah dengan banyak mengonsumsi air putih.

Saat Lebaran Penderita Diabetes Bisa Tetap Sehat

Penderita diabetes umumnya harus membatasi asupan makanan dan minuman manis, namun saat Lebaran justru banyak tersaji makanan atau kue-kue manis. Lantas bagaimana caranya agar orang dengan diabetes bisa tetap merayakan Lebaran dengan sehat dan tak ‘menyiksa’?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi kue-kue khas Lebaran, tapi penting untuk membatasi jumlahnya agar tak berlebihan. Kue khas Lebaran biasanya mengandung kadar karbohidrat dan gula yang tinggi, karena itu untuk mengimbangi agar tidak berlebihan sebaiknya penderita diabetes membatasi atau mengurangi asupan karbohidrat dan gula dari sumber makanan yang lain.

Penderita diabetes mengabaikan anjuran yang ada dan tetap mengonsumsi makanan manis secara berlebihan, maka bukan tak mungkin akan berisiko hiperglikemia. Kondisi hiperglikemia merupakan peningkatan kadar gula darah atau gula darah yang tidak terkontrol, yaitu menjadi di atas 300 mg/dL.

Yang tak kalah pentingnya adalah untuk tetap melakukan pemantauan kadar gula darah di hari tersebut. Ini bergantung dari anjuran dokter masing-masing, namun bisa dilakukan di pagi hari, siang hari, dan malam. Terutama saat sebelum dan sesudah makan.

Selain itu penderita diabetes juga harus memeriksa gula darahnya jika sudah timbul gejala hipoglikemia atau hiperglikemia.

Kondisi hipoglikemia muncul ketika kadar gula darah seseorang sangat rendah, yaitu berada di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini muncul terutama saat bulan puasa karena adanya pengurangan asupan makanan. Gejala yang muncul antara lain keringat dingin, lemas, mata berkunang-kunang, dan terasa seperti akan pingsan.

Sementara gejala-gejala yang biasa terjadi saat mengalami kondisi hiperglikemia antara lain sulit bernafas dengan normal, suara napas menjadi berat, muntah, pusing, hingga mulut yang menjadi kering. Untuk memastikan apakah benar hiperglikemia atau hipoglikemia, maka harus dilakukan pengukuran kadar gula darah segera.