Olahraga Mengganggu Menstruasi? Benarkah?

Sejak hobi lari dan latihan beban untuk menurunkan berat badan, Anda merasa jadi lebih jarang mendapat menstruasi. Apakah terlalu banyak berolahraga bisa mengganggu kesuburan?

P

Olahraga tidak mengganggu kesuburan. Bahkan, pada mereka yang mengalami obesitas dan sulit hamil, olahraga dan menurunkan berat badan justru dapat meningkatkan kemungkinan untuk hamil. Jadi, Anda tidak perlu takut berolahraga. Hanya, tetap perhatikan intensitasnya.

Tapi memang, ada hubungan antara stres fisik yang berat dengan pola hormon sehingga dapat mengganggu keluarnya sel telur. Olahraga berat yang dilakukan terlalu dini, misalnya sejak anak-anak, dapat memengaruhi hormon pertumbuhan dan reproduksi.

Untuk menilai berat atau tidaknya aktivitas fisik, sebaiknya Anda berkonsultasi langsung dengan spesialis kedokteran olahraga. Jika gangguan hanya sesaat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, bila terjadi lebih dari 3 bulan, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk dievaluasi.

Iklan

Seusai Olahraga Jangan Minum Air Es !

Kelar Olahraga memang haus dan mulut terasa kering. Paling enak memang langsung menyambar minuman dingin, pasti kerongkongan juga akan terasa nikmat, segar dan menyenangkan. Tapi hati-hati, semua kesegaran yang Anda bayangkan itu bisa jadi bencana bagi tubuh Anda. Masak sih?

Kebiasaan meminum es setelah berolahraga memang sangat menyegarkan. Tapi, siapa sangka bila kebiasaan itu bisa merusak metabolisme tubuh. Secara sadar atau tidak, banyak di antara kita sering sehabis olahraga, segera minum air atau minuman dingin yang diberi es batu ke dalamnya atau yang telah disimpan dalam lemari pendingin.
1798674_658240727547991_1365337339_n
Saat minum, memang terasa segar. Namun, melepaskan dahaga setelah berolahraga dengan cara ini sejatinya tidak benar. Hal itu justru dapat mengganggu metabolisme. Tidak jarang setelah minum es ada yang merasa mual dan pusing,serta suhu badan menurun. Suhu minuman yang ideal sebaiknya agak dingin, sekitar 5-10 derajat C. Pasalnya, pada suhu tersebut, cairan mudah diserap sehingga keringat cepat digantikan. Jumlah air minum atau minuman yang dikonsumsi harus dalam jumlah yang cukup, tergantung pada intensitas latihan, cuaca, dan kelembaban. Minumlah sebelum, selama, dan setelah berolahraga.

Bila berolahraga pada pagi hari, minumlah air sebelum mulai berolahraga sebanyak 300 cc. Bila menderita sakit mag, perlu ditambah dengan makan makanan ringan, seperti crackers misalnya. Tetap pula minum selama berolahraga, di antara waktu break atau istirahat. Misalnya saat bermain tenis, minumlah pada waktu pergantian set. Bila bersenam aerobik, manfaatkan waktu istirahat yang sebentar itu untuk minum. Demikian pula bila bersepeda. Bukankah biasanya ada tempat khusus untuk menempatkan botol minuman di sepeda?

Yang tidak boleh dilupakan adalah minum seusai berolahraga. Minumlah secukupnya sampai kira-kira suhu tubuh agak normal. Bila berolahraga cukup lama, antara 1-2 jam, minumlah hanya air putih. Namun, bila waktu berolahraga berlangsung lebih dari 2jam, dianjurkan untuk minum sport drink yang mengandung gula dan mineral, seperti kalsium, natrium, magnesium, klorida, dan lain-lain. Karena kalau berolahraga cukup lama, banyak mineral dan gula yang terbuang sehingga perlu diganti kembali.

Pada waktu berolahraga di udara panas dan lembap dan berlangsung lama (endurance sport) seperti balap sepeda jarak jauh, lari maraton, triatlon, dan lain-lain mutlak perlu minum lebih banyak. Minumlah sport drink agar mineral dan gula selalu cukup sehingga tidak cepat lelah.

Satu hal yang perlu diperhatikan, pada saat melakukan olah raga endurance, seseorang tidak perlu menunggu sampai haus baru minum karena biasanya itu sudah terlambat. Jadi meskipun belum merasa haus dan lapar, tetaplah makan dan minum. Minuman yang dianjurkan, air putih, sport drink dengan gula, misalnya 5% yang mengandung mineral-mineral yang cukup. Ada beberapa jenis minuman yang tidak dianjurkan dikonsumsi setelah berolahraga. Di antaranya, minuman beralkohol karena menyebabkan diuresis, yaitu merangsang pengeluaran urine. Demikian pula minuman yang mengandung kafein karena juga bersifat diurektik sebagaimana alkohol. Kedua minuman tersebut menjadi berbahaya bila diminum pada cuaca panas dan lembab, serta saat melakukan olahraga endurance.

Pada saat tidak berolahraga, seseorang pun perlu cukup minum, sebaiknya pada kondisi ini yang diminum air putih saja. Minuman itu tidak panas dan juga tidak dingin. Konsumsi minuman pun dilakukan secara merata baik pada pagi, siang, maupun malam. Dalam sehari, kebutuhan air minum pada orang sehat sekitar 3-4 liter, tergantung lingkungan-suhu dan kelembapan. Bila suhu panas, lebih-lebih bila panas dan lembap maka asupan cairan tubuh perlu pula ditambah

Minuman Setelah Berolahraga

Minuman jenis apa yang baik dikonsumsi setelah berolahraga?

Menurut Emilia Achmadi M.Sc. (Nutritionist), untuk tiap orang, baik aktif maupun tidak, air putih adalah minuman terbaik untuk mengembalikan air tubuh yang hilang akibat aktivitas sehari-hari, termasuk setelah berolahraga. Sebab, air putih sangat mudah diserap dan memungkinkan proses rehidrasi dengan cepat.

Jus buah atau susu segar bisa menjadi pilihan, namun hanya sebagai minuman tambahan. Sebab jus buah dan susu segar tidak dapat menggantikan manfaat air putih. Hindari mengonsumsi minuman energi yang mengandung gula serta kafein setelah berolahraga karena dapat berakibat negatif bagi tubuh. Jika Anda termasuk orang yang sangat aktif atau rutin melakukan olahraga di atas rata-rata tiap hari, minuman isotonik cocok bagi Anda.

Bahaya !!! Olahraga Terlalu Keras dapat Melukai Ginjal

Berolahraga terlalu keras dapat menyebabkan nyeri otot yang menyakitkan, tetapi ternyata nyeri otot tersebut juga dapat menimbulkan masalah yang lebih serius. Kerusakan otot akibat berolahraga terlalu keras telah dikaitkan dengan kerusakan ginjal akibat gangguan enzim dalam darah.

Seorang pria di Pennsylvania mengalami nyeri otot lengan setelah berlatih dengan keras di tempat fitness. Keesokan harinya, lengan pria tersebut membengkak hingga 3 kali ukuran normal, kemudian dirinya segera memeriksakan kondisinya ke rumah sakit.

Dokter mendiagnosis masalah tersebut dengan Rhabdomyolysis, yaitu kerusakan otot karena pelepasan enzim myoglobin bersamaan dengan creatine kinase ke dalam aliran darah. Hal ini diketahui berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal.

Pria tersebut harus menjalani serangkaian tes yang menyakitkan hingga lebih dari 120 jam di rumah sakit, diantaranya harus berulangkali menjalani tes darah, cardiogram, ultrasound, dan bahkan pemasangan kateter kemih.

“Rhabdomyolysis biasanya terjadi karena cedera keras akibat kecelakaan mobil atau tertimpa reruntuhan bangunan, tetapi ternyata efek buruk berolahraga terlalu keras juga dapat menyebabkan kerusakan otot yang mengarah kepada masalah ginjal
Perawatan rhabdomyolysis meliputi hidrasi melalui selang infus untuk mengeluarkan enzim berbahaya dari tubuh. Dialisis ginjal mungkin juga diperlukan, tergantung pada tingkat kerusakan ginjal akibat enzim tersebut. Pasien yang didiagnosis mengalami rhabdomyolysis harus menjalani rawat inap setidaknya beberapa hari di rumah sakit.

Untuk mencegah kerusakan ginjal akibat rhabdomyolysis, seseorang yang berolahraga dengan tujuan membangun otot harus didampingi oleh instruktur agar sesuai dengan kebutuhan Anda dan tidak berlebihan. Hindari berolahraga dengan intensitas tinggi setiap hari, setidaknya beri jeda sehari.

Selain itu pastikan agar Anda tetap terhidrasi ketika berolahraga. Ketika seseorang merasa haus, dirinya telah mengalami dehidrasi hingga 2 persen. Perhatikan warna urine untuk mengetahui apakah Anda telah cukup terhidrasi, segeralah minum air jika warna urine terlihat gelap.