Perut Nyeri dan Melilit? Begini Mengatasinya


1896794_663254267046637_1272204454_n

Perut melilit, nyeri, dan sakit bertubi-tubi, dapat terjadi pada siapa saja, pria, wanita bahkan anak-anak. Salah satu yang perlu kita cermati adalah pada siapa hal itu terjadi. Jika hal itu terjadi pada anak Anda, kenali juga gejala-gejala lain yang menyertai nyeri perut itu. Misalnya, pada bayi, usia 0-3 bulan: biasanya diiringi dengan muntah. 3 bulan – 2 tahun: diiringi dengan muntah, menjerit tiba-tiba, menangis tanpa ada trauma yang dapat menjelaskan tindakan anak tersebut. 2 – 5 tahun: biasanya sudah dapat menyatakan sakit perut, tapi lokalisasi belum tepat. Di atas 5 tahun ; dapat menerangkan sifat dan tempat yang dirasakan sakit.

Pada bayi biasanya sering terjadi gastroenteritis (diare) akut dan kolik, namun juga penting untuk menyingkirkan lelaianan lainnya. Pada kelompok usia prasekolah dapat disebabkan oleh gastroenteritis akut, infeksi virus, infeksi saluran kemih, apendisitis (usus buntu), radang paru, sembelit dan trauma.

Sementara anak usia sekolah sering menderita gastroenteritis akut, infeksi saluran kemih, apendisitis, trauma, radang panggul, sembelit dan radang usus.

Perhatikan hal-hal berikut ini, bila hal-hal ini terjadi, segera hubungi dokter Anda.

  • Nyeri perut berat lebih dari 6 jam
  • Nyeri perut dengan nyeri tekan yang jelas apabila perut ditekan , khususnya saat tangan penekan dilepaskan , yang berkurang jika anak membungkuk atau bila pada anak kurang dari satu tahun.
  • Muntah berwarna hijau atau darah , darah dalam tinja dengan warna hitam dan seperti ter .
  • Trauma pada perut
  • Penurunan kesadaran
  • Pernafasan yang cepat dan dangkal
  • Anak tampak menderita sakit berat
  • Kemungkinan terjadi keracunan obat atau racun

Yang dapat dilakukan biarkan anak beristirahat, berikan sedikit cairan jernih. Turunkan demam dengan obat penurun panas, jangan memberi obat penghilang rasa sakit.

Tapi terkadang, nyeri perut itu juga bisa disebabkan karena kekurangan enzim, sehingga terjadi malabsorbsi. Kekurangan Enzim. Sindrom malabsorsi terjadi akibat pola hidup dengan makan tidak seimbang. Sehingga proses penyerapan dan pencernaan makanan terganggu, karena sejumlah enzim untuk memecah bahan makanan itu tidak cukup. Sebagian bahan makanan yang masuk tubuh akan terbuang percuma.

Pada seseorang terkena sindrom malabsorsi, perlahan tubuh mengalami kurang gizi kronis, meski telah makan sesuai aturan “4 sehat 5 sempurna”.

Untuk mengenali seseorang apakah terkena sindrom malabsorsi, menurut dr Ari Fahrial, caranya cukup mudah. Yaitu, selain mengalami gejala-gejala mirip penyakit maag, penderitanya juga sering bersendawa dan buang angin (kentut), gampang terkena diare dan sering terdengar dari dalam perut suara usus “kriuk-kriuk” seperti orang kelaparan.

Untuk mengatasi masalah kekurangan enzim ini, disarankan agar melakukan diet terutama mengurangi makanan yang berlemak, keju serta coklat. Selain juga banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran sebagai bahan makanan yang memproduksi “enzim”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s