Chatting berbahaya lho !


Chatting udah jadi kebiasaan di kehidupan, gak sehari chatting sepertinya ada yang kurang. Chatting tampaknya sudah menjadi kegiatan sehari-hari yang dilakukan banyak orang, terutama yang tinggal di kota besar dengan jaringan internet. Namun Anda perlu berhati-hati, keseringan chatting ternyata bisa memicu penyakit neuropati.

Bagi yang hobi chatting menggunakan komputer atau smartphone, berhati-hatilah. Sebab, Anda bisa saja terkena penyakit neuropati, yaitu gangguan pada saraf tertentu yang diakibatkan trauma pada saraf atau disebabkan efek samping dari penyakit sistemik. Gejalanya seperti rasa nyeri, rasa baal, mati rasa, kram, kaku-kaku, kesemutan atau rasa terbakar.

Hal ini disampaikan oleh Dr Manfaluthy Hakim Sp.S (K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) dalam jumpa pers Perdossi dan perusahaan farmasi Merck di Hotel Clarion, Makassar, seperti ditulis Jumat (5/10/2012).

Menurut Dr Manfaluthy, posisi tangan ketika mengetik yang secara berulang-ulang dengan posisi sama selama sekian jam akan mengakibatkan saraf di bagian tangan akan terjepit.

“Ada beberapa tempat di sekitar tangan akibat kebiasaan chatting atau mengetik dengan posisi salah, yang berisiko terkena gejala penyakit neuropati, seperti pergelangan tangan atau siku, akibat sarafnya mengalami trauma atau rusak,” ujar Dr Manfaluthy yang juga menjabat konsultan Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Meski demikian penyakit neuropati akibat trauma lebih mudah penanganannya dibanding penyakit neuropati karena penuaan, diabetes dan kekurangan vitamin B.

Dr Manfaluthy juga menambahkan penyakit neuropati ini bisa mengancam 1 dari 4 orang usia di atas 40 tahun. Selain itu, penderita diabetes, hipertensi dan pecandu alkohol juga rentan dengan penyakit ini.

Apabila tidak diterapi dengan benar, dapat menjadi berat sehingga berpotensi menimbulkan komplikasi penyakit lainnya.

Untuk menangani penyakit neuropati, lanjut Dr Manfaluthy, diperlukan suplai vitamin neurotropik, yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B6 dan vitamin B12.

Asupan vitamin B12 yang lebih banyak dibutuhkan oleh tubuh, karena vitamin B12 yang masuk ke tubuh hanya diserap kurang dari 2 persen per asupannya.

“Vitamin neurotropik berfungsi menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, melalui pemberian asupan yang dibutuhkan supaya saraf bisa bekerja dengan baik. Vitamin ini juga terlibat dalam metabolisme energi sel, untuk mengatasi kelelahan, membantu penyembuhan penyakit,” pungkas neulorogis RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

sumber : heatlh.detik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s